Rabu, 18 Januari 2012

lprn.m.t.ptong


LAPORAN
MANAGEMEN TERNAK POTONG DAN KERJA














Di Susun Oleh kelompok 9




Zulkarnaen
BIA 009 064


















FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
2011









PENDAHULUAN

Latar Belakang
Peternakan di Indonesia sejak zaman kemerdekaan sampai saat ini sudah semakin berkembang dan telah mencapai kemajuan yang cukup pesat. Sebenarnya, perkembangan kearah komersial sudah ditata sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan pada saat ini peternakan di Indonesia sudah banyak yang berskala industri. Perkembangan ini tentu saja harus diimbangi dengan pengelolaan yang profesional dan disertai dengan tata laksana yang baik. Tanpa pengelolaan dan tata laksana yang baik, produksi ternak yang akan dihasilkan tidak akan sesuai dengan harapan, bahkan peternak bisa mengalami kerugian yang cukup besar (AAK, 1991).
Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor – faktor produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan juga modal untuk menghasilkan produk peternakan. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengelolaan. Manajemen mencakup pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan, dan kesehatan ternak. Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran, dan pengaturan tenaga kerja (Santoso, 2001).
Usaha ternak juga merupakan suatu kegiatan peternakan dimana peternak dan keluarganya melakukan pemeliharaan ternak yang bertujuan memperoleh hasil dan pendapatan, sedangkan sistem usaha ternak sapi potong adalah suatu sistem usaha yang terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan terhadap usaha pemeliharaan sapi potong. Peternak memilih mengusahakan ternak sapi dengan beberapa tujuan. Bagi peternak, ternak sapi berfungsi sebagai sumber pendapatan, protein hewani, dan tenaga kerja serta penghasil pupuk. Fungsi lain adalah sebagai penghasil bibit dan tabungan. Besarnya  kontribusi ternak sapi terhadap pendapatan bergantung pada jenis sapi yang dipelihara, cara pemeliharaan, dan alokasi sumber daya yang tersedia di masing – masing wilayah. Namun, pemeliharaan ternak secara ekstensif (tradisional) menyebabkan produktivitasnya rendah sehingga pendapatan juga menjadi rendah. Sapi merupakan hewan yang potensial dan secara genetik mempunyai kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis. Produktivitas ternak dapat ditingkatkan dengan memperbaiki efesiensi produksi, antara lain meningkatkan kelahiran pedet, memperpendek jarak beranak, memperpanjang masa produksi, serta mengoptimalkan pengelolaan perkawinan guna menyediakan bakalan (Santoso, 1997).
Usaha ternak sapi potong merupakan usaha yang saat ini banyak dipilih rakyat untuk dibudidayakan. Kemudahan dalam melakukan budidaya serta kemampuan ternak untuk mengkonsumsi limbah pertanian menjadi pilihan utama. Sebagian besar skala kepemilikan sapi potong di tingkat rakyat masih kecil yaitu antara 5 sampai 10 ekor. Hal ini dikarenakan usaha ternak yang dijalankan oleh rakyat umumnya hanya dijadikan sampingan yang sewaktu – waktu dapat digunakan jika petani peternak memerlukan uang dalam jumlah tertentu ( Y.B. Sugeng, 1992)
Pada sistem pemeliharaan yang kurang baik umumnya peternak memberikan pakan yang tidak menentu, peternak umumnya tidak mengerti nilai padang penggembalaan dan peternak biasanya tidak mengusahakan lahan yang cukup untuk memungkinkan peternak menanam tanaman khusus sebagai pakan ternak, sapi – sapi dibiarkan merumput mencari makan pada semak – semak. Mereka mungkin diberi berbagai konsentrat sisa pabrik seperti dedak padi, tetapi pada banyak negara, makanan seperti itu diberikan untuk makanan ayam. Padahal sistem pemeliharaan yang baik akan memberikan hasil produksi yang jauh lebih baik pula (Bambang, 1990).  Usaha peternakan sapi potong didominasi oleh peternakan rakyat yang berskala kecil. Peternakan bukanlah suatu hal yang jarang dilaksanakan. Hanya saja skala pengelolaanya masih merupakan usaha sampingan yang tidak diimbangi dengan permodalan dan pengelolaan yang memadai. Hampir semua rumah tangga (terutama di pedesaan) yang mengusahakan ternak sebagai bagian kegiatan sehari – hari (Siregar, 1996).
Pengembangan sapi potong sebagai salah satu ternak potong yang masih banyak mengalami hambatan karena pemeliharaannya. Pemeliharaan sapi potong yang masih tradisional jelas kurang menguntungkan karena tidak diharapkan berproduksi secara maksimal, hal ini disebabkan karena tidak adanya pengaawasan yang baik tentang makanan, pemberian pakannya hanya sekedarnya, tanpa mempehitungkan kebutuhan standar gizi, bahkan seing dijumpai sapi potong dilepas begitu saja untuk mencari makanan sendiri, tata laksana pemeliharaannya juga tidak terprogram dengan baik dan kandangnya hanya dibuat sekedar untuk tempat berlindung dari teriknya matahari diwaktu siang dan udara yang dingin diwaktu malam (Santoso, 2008).
Peternak sapi potong merupakan orang yang mengusahakan ternak sapi dimulai dari pemeliharaan bibit hingga sapi tersebut dewasa dan siap untuk dijual pada konsumen. Usaha ternak sapi potong secara langsung berpengaruh terhadap pendapatan keluarga, karena pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi potong dapat memberikan kontribusi yang cukup baik terhadap pendapatan keluarga, dimana kontribusi pendapatan keluarga adalah seberapa besar kontribusi atau sumbangan pendapatan bersih usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga sedangkan pendapatan bersih adalah selisih antara total penerimaan dengan total biaya usaha ternak sapi tersebut (Anonimous, 2010)

Tujuan Peraktikum
Mengetahui pelaksanaan sistem pemeliharaan ternak sapi potong, besar pendapatan usaha ternak sapi potong, besar kontribusi usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga, kendala yang ada dalam menjalankan usaha ternak sapi potong dan solusi yang dilakukan dalam penyelesaian kendala – kendala tersebut di daerah peraktik yang kami laksanakan.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan laporan dan guna mendapatkan ilmu yang maksimal yang menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan nilai peraktik dalam mata kuliah managemen ternak potong dan kerja


LANDASAN TEORI

Managemen sistem produksi ternak potong dan kerja
Usaha ternak merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor – faktor produksi berupa lahan, ternak, tenaga kerja, dan juga modal untuk menghasilkan produk peternakan. Keberhasilan usaha ternak sapi bergantung pada tiga unsur yaitu bibit, pakan, dan manajemen atau pengelolaan. Manajemen mencakup pengelolaan perkawinan, pemberian pakan, perkandangan, dan kesehatan ternak. Manajemen juga mencakup penanganan hasil ternak, pemasaran, dan pengaturan tenaga kerja (Santoso, 2001).
Usaha ternak juga merupakan suatu kegiatan peternakan dimana peternak dan keluarganya melakukan pemeliharaan ternak yang bertujuan memperoleh hasil dan pendapatan, sedangkan sistem usaha ternak sapi potong adalah suatu sistem usaha yang terdiri dari komponen – komponen yang saling berkaitan terhadap usaha pemeliharaan sapi potong. Peternak memilih mengusahakan ternak sapi dengan beberapa tujuan. Bagi peternak, ternak sapi berfungsi sebagai sumber pendapatan, protein hewani, dan tenaga kerja serta penghasil pupuk. Fungsi lain adalah sebagai penghasil bibit dan tabungan. Besarnya . kontribusi ternak sapi terhadap pendapatan bergantung pada jenis sapi yang dipelihara, cara pemeliharaan, dan alokasi sumber daya yang tersedia di masing – masing wilayah.
Namun, pemeliharaan ternak secara ekstensif (tradisional) menyebabkan produktivitasnya rendah sehingga pendapatan juga menjadi rendah. Sapi merupakan hewan yang potensial dan secara genetik mempunyai kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis.
Produktivitas ternak dapat ditingkatkan dengan memperbaiki efesiensi produksi, antara lain meningkatkan kelahiran pedet, memperpendek jarak beranak, memperpanjang masa produksi, serta mengoptimalkan pengelolaan perkawinan guna menyediakan bakalan (Santoso, 1997).
Usaha ternak sapi potong merupakan usaha yang saat ini banyak dipilih rakyat untuk dibudidayakan. Kemudahan dalam melakukan budidaya serta kemampuan ternak untuk mengkonsumsi limbah pertanian menjadi pilihan utama. Sebagian besar skala kepemilikan sapi potong di tingkat rakyat masih kecil yaitu antara 5 sampai 10 ekor. Hal ini dikarenakan usaha ternak yang dijalankan oleh rakyat umumnya hanya dijadikan sampingan yang sewaktu – waktu dapat digunakan jika petani peternak memerlukan uang dalam jumlah tertentu ( Y.B. Sugeng, 1992)
Pada sistem pemeliharaan yang kurang baik umumnya peternak memberikan pakan yang tidak menentu, peternak umumnya tidak mengerti nilai padang penggembalaan dan peternak biasanya tidak mengusahakan lahan yang cukup untuk memungkinkan peternak menanam tanaman khusus sebagai pakan ternak, sapi – sapi dibiarkan merumput mencari makan pada semak – semak. Mereka mungkin diberi berbagai konsentrat sisa pabrik seperti dedak padi, tetapi pada banyak negara, makanan seperti itu diberikan untuk makanan ayam. Padahal sistem pemeliharaan yang baik akan memberikan hasil produksi yang jauh lebih baik pula (Bambang, 1990).
Usaha peternakan sapi potong didominasi oleh peternakan rakyat yang berskala kecil. Peternakan bukanlah suatu hal yang jarang dilaksanakan. Hanya saja skala pengelolaanya masih merupakan usaha sampingan yang tidak diimbangi dengan permodalan dan pengelolaan yang memadai. Hampir semua rumah tangga (terutama di pedesaan) yang mengusahakan ternak sebagai bagian kegiatan sehari – hari (Siregar, 1996).

Permasalahan yang di hadapi peternak
Pengembangan sapi potong sebagai salah satu ternak potong yang masih banyak mengalami hambatan karena pemeliharaannya. Pemeliharaan sapi potong yang masih tradisional jelas kurang menguntungkan karena tidak diharapkan berproduksi secara maksimal, hal ini disebabkan karena tidak adanya pengaawasan yang baik tentang makanan, pemberian pakannya hanya sekedarnya, tanpa mempehitungkan kebutuhan standar gizi, bahkan seing dijumpai sapi potong dilepas begitu saja untuk mencari makanan sendiri, tata laksana pemeliharaannya juga tidak terprogram dengan baik dan kandangnya hanya dibuat sekedar untuk tempat berlindung dari teriknya matahari diwaktu siang dan udara yang dingin diwaktu malam (Santoso, 2008).
Peternak sapi potong merupakan orang yang mengusahakan ternak sapi dimulai dari pemeliharaan bibit hingga sapi tersebut dewasa dan siap untuk dijual pada konsumen. Usaha ternak sapi potong secara langsung berpengaruh terhadap pendapatan keluarga, karena pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak sapi potong dapat memberikan kontribusi yang cukup baik terhadap pendapatan keluarga, dimana kontribusi pendapatan keluarga adalah seberapa besar kontribusi atau sumbangan pendapatan bersih usaha ternak sapi potong terhadap pendapatan keluarga sedangkan pendapatan bersih adalah selisih antara total penerimaan dengan total biaya usaha ternak sapi tersebut (Anonimous, 2010)
METODE PENGAMATAN
1.      Cara kerja
Adapun jalan kerja yang kami laksanakan pada peraktikum kali ini adalah metode survei dan wawan cara serta pengamatan, metode ini sangat penting kami lakukan untuk mendapatkan hasil baik hasil primer dan skunder.
2.      Variabel yang di amati
Variabel yang di amati adalah kondisi peternak kondisi ternak,kandang,kesehatan dan managemen pemeliharaan ternak  serta menanyakan kepada peternak megenai kendala-kendala dalam pemeliharaan ternak
3.      Definisi operasional
Adapun definisi operasional adalah mencangkup seluruh peternak yang ada di wilayah operasional yang kami amati namun khusu dalam peraktek ini kami mengamati 1 orang peternak yang jumlah ternak nya 2 ekor
4.      Analisa data
Data yang di hasilkan sesuai dengan pengamatan yang di laksanakan kami (praktikan) melaporkan kepada peternak dan membahas data tersebut selanjut nya di buat laporan untuk kepentingan akademik sebagai laporan ahir peraktikum.

















HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL
1.      latar belakang peternak
Adapun hasil dari peraktikum ini adalah mengenai latar belakang peternakan
1.      Peternak memiliki 2 ekor ternak dalam hal ini yang bernama pak nasaf
2.      Peternak memiliki keluarga yaitu anak sebagai tanggungan hidup nya
3.      Peternak memelihara ternak nya di kandang kelompok ternak
4.      Ternak yang di pelihara merupakan bantuan dari pemerinntah yaitu program bumi sajuta sapi (BSS)
5.      Dan peternak juga mengalami kendala dalam hal ketersediaan pakan untuk ternak di karnakan lahan tempat pakan terbatas
pembahasan
1.       Latar blakang peternak
Seperti yang telah kami amati selama kami melaksanakan peraktikum ini dan metode yang kami gunakan di sini adalah di utamakan metode survei dan wawan cara kami dapat menarik dan melihat latar belakang dari seluru peternak di kolompok ternak ini rata-rata adalah petani dimana ternak yang di kelola dan di rawat adalah pemberian pemerintah yaitu hasil dari program pemerintah BSS (bumi sejuta sapi) menurut peternak program ini sedikit tidak nya membamtu masyarakat dalam menyambung hidup karna dapat memiliki ternak dengan sepenuh nya walaupun hasil nya tidak sepenuh nya dapat di miliki oleh masyarakat(kelompok ternak) namun hasil yang di dapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari
Mengenai jumlah ternak yang di miliki oleh masing-masing peternak ini berparias, dan sesuai dengan survai dan wawancara kami dari masing-masing peternak ada yang memiliki ternak sejumlah 2 ekor,3 ekor,4 ekor malahan ada yang lebih dari itu.
            Dalam rangka penyediaan pakan bagi ternak yang di miliki oleh ternak menurut nasaf sala seorang peternak yang berhasil saya wawancarai penyediaan pakan ini merupakan sala satu hambatan bagi peternak karna selain kurang nya lahan tempat mengambil pakan disini juga kurang nya rumput lapangan yang berkoalitas sehingga kadang-kadang ternak kekkurangan bahan pakan dan juga dedak jarang malah tidak di berikan.dan mengenai asal usul ternak sendiri sapi bali yang di pelihara merupakan hasil dari IB ( insiminasi buatan ) dan tujuan atau motivasi dari peternak ini sendiri yaitu untuk memperbanyak populasi sesuai dengan program pemerintah ternak ini tidak di gunakan atau di mamfaatkan untuk bekerja selain dari memperbanyak populasi guna menghasilkan anak atau pedet agar peternak mendapatkan untung peternak juga memamfaatkan kotoran ternak untuk di jual dimana harnga kotoran satu karung di hargai 1.500 rupiah jaya kotoran ternak ini mudah di dapatkan karna sistem pemeliharaan nya yaitu di kandangkan sehingga kotoran menumpuk di bagian bawah kandang
            Sistem perkandangan nyapun sngat di perhatikan oleh peternak  menurut nasaf (peternak) kandang yang di gunakan adalah kandang kelompok ternak karna peternak tidak mempunyai lahan sendiri untuk sebagai tempat mengelola ternak nya, dan adapun bahan kandang nya adalah dinding kandang terbuat dari bambu, alas kandang dari bata,semen, tempat pakan dari bambu, dan tempat minum dari ember. Bahan yang di gunakan ini sanggat efisien karna memamfaatkan bahan-bahan yang ada jadi untuk biaya kandang tidak terlalu mahal dan kandang ini bersifat permanen umur teknis kandang yaitu 6 tahun
            Cara pemberian pakan pada ternak relatif tradisional tidak ada sama skali campur taggan teknologi disini dan bahan pakan nya pun menurut kami belum memenuhi standar bahan pakan adapun pakan yang di berikan hanya berupa rumput lapangan dan legum saja namun pemberian pakan nya teratur yaitu 2 kali sehari  air minum yang di berikan tetap tersedia di dalam kandang sehingga sewaktu-waktu ternak dapat minum air.
            Perkawinan ternak di lakukan setiap kali ternak birahi karna peternak sudah memahami kapan waktu n ya ternak siap untuk di kawinkan dan kapan waktu nya tidak di kawinkan kelahiran nya pun terjadi sepanjang tahun apabila ternak melahirkan maka air susu terbak tidak di ambil dan air susu hanya di khuskan untuk pedet saja
Penjualan dan pemotongan ternak di lakukan bila ada kebutuhan yang mendesak sperti kebutuhan anak-anak untuk sekolah,untuk biaya makan sehari hari sehingga waktu pemotongan dan penjualan tidak di tentukan dan ternak apkiran pun tidak di tentukan umur nya karna menurut peternak sebatas ternak tersebut masih mampu berproduksi dengan baik maka ternak tersebut tidak akan di potong atau di jual tetapi apabila ada kebutuhan yang mendesak dan membutuhkan biaya kehidupaka maka ternak akan di jual
Kematian ternak juga jarang terjadi di kelompok ternak ini karna sudah tersedia nya tenaga kesehatan yang khusus untuk merawat ternak yang sakit sehinga peternak tidak kwatir jika sewaktu-waktu ternak terjangkit penyakit.
Biaya produksi dan pendapatan peternak dalam biaya produksi peternak tidak mengeluarkan biaya yang besar baik dalam hal biaya pemberian pakan,obat-obatan, dan hal lain nya karena peternak mencari rumput sendiri sehingga biaya tidak di keluarkan yang ada hanya biaya obat-obatan yaitu sebesar Rp50.000 perkawinan ternak yaitu 25 ribu/1 kali suntik karna di kelompok ternak ini sudah tersedia orang-orang yang ahli dalam IB  sedangkan pendapatan pternak di perkirakan rp 5.000.000/ternak betina jadi jika di simpulakan total pendapatan peternak adalah Rp 4.925.000
2.   Tatalaksana pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :

a) Melindungi sapi
dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.


  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
  1. Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua. Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput. Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king gr
ass), daun turi, daun lamtoro.Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
3.      Perkandangan dan kesehatan
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
kesehatan
Penyakit antraks Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
2.  Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
3.  Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
4.  Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1.  Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
2.  Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
3.  Mengusakan lantai kandang selalu kering.
4.  Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
4. tatalaksana pakan
Pakan yang di berikan kepada ternak harus di atur sesuai dengan berat badan ternak serta pakan di berikan 2 kali sehari dengan nutrisi yang baik.rafnsum yang baik akan menentukan performance ternak tersebut.


5. tatalaksana perkembang biakan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
1.  Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
2. Matanya tampak cerah dan bersih.
3. Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
4. Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
5. Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
6. Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
7. Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
8. Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan     bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.

Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
1. tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
2. kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
3. laju pertumbuhannya relatif cepat.
4. efisiensi bahannya tinggi.
6.   produktivitas ternak
 Produktivitas ternak yang ada di wiyah ini cukup memuaskan karna sistim pemeliharan cukup baik sehingga bobot badan ternak cukup meningkat walaupun menurut peternak kendala yang di hadapi cukup banyak yaitu ketersediaan tempat pakan.
7.      Pemasaran ternak
        Ternak yang berniat untuk di jual akan di bawah ke pasar hewan dengan menggunakan truk biaya yang di keluarkan yaitu sebesar seratu ribu rupiah.
Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.
PASCA PANEN
Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
1.  Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
2.  Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
3.  Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
4.  Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
 Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi
dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.

Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemo
tongan dan pengeluaran jeroan.
Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).
Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 % Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).
8.         Penadapatan bersih peternak
Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di barobali skala 2 ekor pada tahun 2011 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a.  Pembelian 2 ekor bakalan : 2 x 1.500.000/ekor = 3.000.000
.b.Pakan
-
Hijauan: 2 ekor masing-masing 15 kg Tidak ada biaya untuk hijauan karena di cari sendiri
- tidak di berikan konsentrat
C. Retribusi kesehatan ternak: 2 x Rp. 25.000/suntik satu bulan sekali x 12,=RP.600.000
     Jumlah biaya produksi                                           Rp.3.600.000,-
2) Pendapatan
a.    Penjualan sapi
1 ekor =6.000.000=2x6.000.000=12.000.000
Jumlah pendapatan bersih untuk penjualan sapi yaitu Ro.12.000.000-3.600.000=Rp.8.400.000

b.    Penjualan kotoran basah: 2 ekor =10 kg x Rp. 1.500
=   Rp. 15.000  x 360=540.000,-
     Jumlah pendapatan kotoran + penjualan sapi = Rp. 8.940,000,-

3) Keuntungan
a.  Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 2 ekor sapi selama setahun. Rp. 8.940.000/2 ekor,-
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
a)                  Konsumen Akhir 
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.  Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
1.  Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
2.  Konsumen asing
     Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.

b)                  Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :
a)  KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.
b)  APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan
c)  ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).
9.      Kendala utama yang di hadapi dan cara menghadapi nya
Kendala uatama yang di hadapi adalah lahan sebagai tempat mencari pakan,pemasaran dan pengetahuan peternak terhadap managemen pemeliharaan
Dan cara menghadapi nya adalah sebaik nya pemerintah menyediakan tempat pakan dan pasar seperti koprasi sehingga peternak dapat maksimal dalam mendapatkan keuntungan seerta memberikan pelayanan penyuluhan kepada peternak.


KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Dari hasil peraktikum kami dapat menyimpulkan bahwa untuk mendirikan suatu usaha ternak potong dan kerja kita harus memperhasikan banyak hal yang menyangkut masalh managemen agar kita mendapatkan keuntungan yang maksimal.di wilayah ini cukup cocok untuk mendirikan usaha sapi potong namun hambatan nya adalah tempat pakan karna untuk sapi potong bobot badan menentukan keberhasilan dan keuntungan bagi peternak
SARAN
Di harapkan kepada teman-teman agar lebih kompak dan saling mengimpormasikan berkaitan dengan penyusunan laporan

DAFTAR PUSTAKA

Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.
Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.
Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka
Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumber :
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas